0

Sebuah Kebodohan

Kamar Hotel Dormitory Hongkong

Sebuah kamar dormitory yang harusnya cuma boleh untuk berempat kami gunakan berlima karena mahalnya harga hotel di Hong Kong. Kota ini adalah salah satu kota terpadat di dunia maka wajar saja jika harga hotelnya mahal-mahal (untuk ukuran backpacker).

Kami semua, kecuali Barlin, sudah tepar di kamar karena seharian berjalan jauh mengelilingi Hong Kong dan Macau.

Barlin lebih memilih bersantai di lorong apartemen (hotel kami berada di sebuah apartemen). Dia duduk lesehan bermain laptop sambil merokok. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, not to mention waktu itu disana sedang musim dingin.

Tiba-tiba saja.

Continue reading

0

Stereotype : Jahat atau Wajar?

“This is not Pasar Seni. Take me to Pasar Seni!”

“This is Pasar Seni. You said you want me to take you to Pasar Seni!”

Sebenarnya saya cuma transit di Kuala Lumpur. Pesawat Cebu saya tiba di Kuala Lumpur jam 9 malam setelah sebelumnya saya terkena delay 5 jam dikarenakan Taifun.

Pesawat saya ke Jogja berangkat besok pagi. Sebenarnya bisa saja saya menghabiskan malam di Bandara KLIA2, namun karena saya punya voucher tiket dot com maka saya putuskan mending nginap di KL, toh udah lama gak ke KL. Walau sebenernya nanggung banget gara-gara taifun sialan.

Saya sampai di hotel jam sekitar jam 10.30 malam dengan perut keroncongan. Saya belum makan sejak siang soalnya susah cari makanan berlabel halal di Bandara Manilla. Hotel saya berada di daerah China Town, cuma berjarak satu stasiun dari KL Sentral.

Continue reading

1

Kalah Level

Alkisah beberapa bulan yang lalu saya sekeluarga berwisata ke pulau dewata. Singkat kata hari itu orangtua pergi keliling bali naik motor dan saya tinggal di hotel karena masih banyak pekerjaan. Bosan di hotel, saya memutuskan untuk pergi ke Pantai Kuta naik moda transportasi yang lagi booming di kalangan netizen, apalagi kalau bukan gojek, eh go-jek.

“Kesini sama siapa mas? Pacar?”, tanya si driver

“Sama orangtua mas, gak punya pacar”, jawab saya setengah malu

“Ah masa sih mas. Nanti malam mau kemana?”

“Gak kemana-mana sih mas soalnya besok ada flight pagi.”

“Ikut saya clubbing aja mas. Saya gonta-ganti pacar bule tiap bulan”, ajak dia sambil memasang senyuman penuh kebanggaan.

Continue reading

0

Wait, What??

“Café free wifi male”

Saya klik hasil pencarian teratas yang kemudian terdirect ke tripadvisor. Agak susah mencari café dengan free wifi di Male. Enggak, jangankan café, mencari restoran pun agak susah. Kemarin saya perlu berjalan 20 menit berkeliling kota hanya untuk mencari tempat makan! Beda dengan tempat kita, bangunan lantai bawah di male tidak selalu jadi tempat komersial.

Akhirnya pilihan saya tertuju pada Jade Bistro. Tempat itu terletak di dekat pelabuhan ferry bandara, sehingga saya gak perlu keburu-buru karena hari itu hari terakhir di Maldives. Meski namanya bistro, namun tempat itu tidak menyediakan alkohol. Pemerintah Maldives memang melarang penjualan alkohol di local island.

Saya lagi banyak kerjaan yang butuh koneksi internet hari itu. Hotel saya di Maafushi Island ada wifinya sih, tapi lambat banget! Jangankan buka youtube, bisa googling aja alhamdulillah.

Continue reading

0

Drama Naik Pesawat

SHIT!

Teriak saya keras-keras ketika tahu bahwa saya salah beli tiket pesawat. Seharusnya saya beli tiket Sydney-Melbourne Tullamarine tapi saya malah beli Sydney-Melbourne Avalon, padahal saya punya penerbangan lanjutan dari Tullamarine. Sebenarnya saya bisa ambil resiko untuk tetap menggunakan tiket Sydney-Avalon, namun saya berpikir bahwa waktu 4 jam tidak cukup untuk berpindah bandara. Apalagi ini adalah penerbangan internasional. Apa boleh buat, saya terpaksa beli lagi tiket Sydney-Tullamarine.

Dan kemudian setibanya saya di Bandara Tullamarine you know what happened?

PESAWAT SAYA DIKABARKAN DELAY 24 JAM!!

Bukan 1 jam, bukan 2 jam, bukan 3 jam, tapi 1 hari full! Saya menggerutu dalam hati, tahu gitu gak usah beli tiket baru.

Continue reading

0

Susahnya Naik Bus Umum di Yangon

Biasanya, di negara dengan bahasa non latin sekalipun, terdapat papan yang menunjukkan nomor bus. Namun tidak di Myanmar. Nomor bus dalam kota disini semuanya tertulis dalam bahasa burmese.

Pilihan moda transportasi umum di Yangon ada dua : Taxi atau Bus. Biasanya turis asing naik taxi karena alasan diatas, dan juga taxi harganya murah dan jujur. Namun kurang menantang rasanya kalau saya naik taxi, berasa turis bukan backpacker. Maka dari itu saya beranikan diri untuk naik bus umum. Tak kurang akal, saya minta resepsionis hotel untuk menuliskan nomor Bus ke National Stadium di secarik kertas. Hari itu adalah pertandingan timnas Indonesia U-19 melawan Vietnam (kalau tidak salah, saya lupa).

Saya tunggu di halte bus dekat hotel. Bus disini ada dua macam : bus dengan kursi 3-2 layaknya bus kopaja dan bus dengan bangku panjang dari kayu dan dipasang kayaknya kursi pada KRL. Tentu saja harganya beda.

Continue reading

0

Pengalaman Pertama Kali Menggunakan Airbnb

Sebenarnya sudah 2x saya menggunakan airbnb, yang pertama adalah di Phuket dan yang kedua adalah di Maldives. Namun kedua tempat tersebut adalah hotel yang terlisting di airbnb, bukan properti pribadi. Saat eurotrip kemarin saya berkesempatan menjajal the real airbnb experience. Sebenarnya bukan karena kepengen mencoba, tapi karena terpaksa gara-gara tarif hotel di Paris waktu itu lagi mahal-mahalnya karena bertepatan dengan liburan musim panas dan UEFA Euro. Dual combo!

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Paris-Charles de Gaulle pada pagi hari. Sedang saya janjian check-in jam 12. Sayangnya ransel yang berat menghalangi kami (saya dan satu teman bernama Ardin) untuk jalan-jalan ke kota. Apa boleh buat, kami memutuskan untuk titip tas dulu di apartemen si host. Hal ini biasa saya lakukan kalau menginap di hotel.

Perlu 2x ganti kereta untuk sampai apartemen si host (mulai sekarang kita sebut saja Amel,bukan nama asli). Tidak susah mencari lokasi apartemen Amel. Jaraknya 10 menit jalan kaki dari stasiun MRT terdekat.

Continue reading

0

Kopi

“Ini kopinya dianter apa gimana?” tanya saya kepada seorang teman. Waktu itu adalah pertama kalinya saya ke Starbucks, sebuah gerai kopi yang melambangkan hedonisme. Emang seberapa enaknya sih kopi seharga 50.000 rupiah? Is it worth it? Apakah rasanya beda dengan kopi sachet seharga 3000 rupiah di warung burjo?

Sejak saat itu saya tahu bahwa pesan kopi di Starbucks harus diambil sendiri. Mungkin hal ini bertujuan untuk menyamakan dengan kultur Amerika yang memiliki upah minimal pegawai tinggi sehingga jumlah pegawai dibuat sedikit mungkin. Tapi ini kan Indonesia? Upah pegawai disini murah. Seberapa susahnya sih menyisihkan sedikit pendapatan perusahaan untuk mempekerjakan pelayan di gerai kopi yang menjual kopinya seharga 50.000 rupiah?

Continue reading