Kopi

“Ini kopinya dianter apa gimana?” tanya saya kepada seorang teman. Waktu itu adalah pertama kalinya saya ke Starbucks, sebuah gerai kopi yang melambangkan hedonisme. Emang seberapa enaknya sih kopi seharga 50.000 rupiah? Is it worth it? Apakah rasanya beda dengan kopi sachet seharga 3000 rupiah di warung burjo?

Sejak saat itu saya tahu bahwa pesan kopi di Starbucks harus diambil sendiri. Mungkin hal ini bertujuan untuk menyamakan dengan kultur Amerika yang memiliki upah minimal pegawai tinggi sehingga jumlah pegawai dibuat sedikit mungkin. Tapi ini kan Indonesia? Upah pegawai disini murah. Seberapa susahnya sih menyisihkan sedikit pendapatan perusahaan untuk mempekerjakan pelayan di gerai kopi yang menjual kopinya seharga 50.000 rupiah?

Semenjak kopi pertama saya di Starbucks, saya jadi sering mampir ke cafe. Although actually I am not a big fan of coffee. Saya gak tau gimana cara menikmati kopi yang pahit. Saat di cafe saya selalu pesan latte atau cappucino.

Singkat kata, beberapa bulan kemudian saya mampir ke sebuah warung burjo. Saya pesan indomie telor rebus plus secangkir nescaffe panas. Anehnya, seruputan kopi itu tak senikmat dulu. Rasa kopi sachet yang tinggal tuang itu jadi hambar. Bubuknya tidak teraduk dengan sempurna. Perbandingan jumlah bubuk dan air pun tidak tertakar. Kenapa ya? Apakah si AA burjo yang gak jago bikinkan kopi? Atau karena lidah saya sudah terbiasa dengan kopi-kopi mahal? Tanya saya dalam hati.

Saya ingat kopi pertama saya. Setelah mengajar saya ngaji, Ibu menawarkan Pak Ustadz untuk dibikinkan kopi. Penasaran, saya meminta ibu untuk membuatkan saya secangkir kopi yang sama. Rasanya enaaakk banget. Tiap sruputannya memberikan sedikit rasa pahit tapi manis di lidah.

Saya jadi berpikir, apakah ini yang dirasakan oleh orang kaya? Apakah ini alasan kenapa orang rela membayar berkali-kali lipat untuk duduk selama beberapa jam di business class? Apakah ini alasan orang beli mobil milyaran rupiah padahal sama-sama macet di jalanan kota?

Seringkali kita orang yang gak punya banyak duit nyinyir orang kaya yang boros. Padahal boros itu relatif. Orang yang berpenghasilan Rp 20 juta/bulan kemudian beli Iphone 7 itu bukan orang yang boros. Orang yang berpenghasilan Rp 2 juta/bulan kemudian beli HP seharga 3 juta rupiah, itu baru orang yang boros. Irit bukanlah membeli barang semurah-murahnya. Irit adalah membeli barang pada kelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s