Pengalaman Pertama Kali Menggunakan Airbnb

Sebenarnya sudah 2x saya menggunakan airbnb, yang pertama adalah di Phuket dan yang kedua adalah di Maldives. Namun kedua tempat tersebut adalah hotel yang terlisting di airbnb, bukan properti pribadi. Saat eurotrip kemarin saya berkesempatan menjajal the real airbnb experience. Sebenarnya bukan karena kepengen mencoba, tapi karena terpaksa gara-gara tarif hotel di Paris waktu itu lagi mahal-mahalnya karena bertepatan dengan liburan musim panas dan UEFA Euro. Dual combo!

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Paris-Charles de Gaulle pada pagi hari. Sedang saya janjian check-in jam 12. Sayangnya ransel yang berat menghalangi kami (saya dan satu teman bernama Ardin) untuk jalan-jalan ke kota. Apa boleh buat, kami memutuskan untuk titip tas dulu di apartemen si host. Hal ini biasa saya lakukan kalau menginap di hotel.

Perlu 2x ganti kereta untuk sampai apartemen si host (mulai sekarang kita sebut saja Amel,bukan nama asli). Tidak susah mencari lokasi apartemen Amel. Jaraknya 10 menit jalan kaki dari stasiun MRT terdekat.

Bzzz… Bel kami pencet. Tidak ada reaksi. Bzzz… Masih tidak ada reaksi. Bzzz… Pintu apartemen masih terkunci. Belasan kali kami pencet bel tidak juga ada reaksi. “Mungkin lagi di luar”, batin kami.

Daripada menunggu lama di depan apartemen, lebih baik kami jalan-jalan di sekitar kompleks. Saya lihat di GPS ada taman di dekat situ. Tapi ternyata setelah didekati ternyata itu bukanlah taman melainkan semacam hutan kota yang dipagari dan tanpa pintu masuk.

Kami melanjutkan berjalan. Tidak banyak yang menarik di sekitar sini. Setelah beberapa menit berjalan kami menemukan ada sebuah taman bermain di kompleks itu tapi kami tidak masuk karena berbayar. Kami hanya duduk disekitar situ karena capek berjalan menggendong tas berat, meski sebenarnya baru berjalan 1 km-an.

Jam 10 kami kembali ke apartemen Amel. Kami pencet bel berulang kali tapi masih belum ada jawaban. Tidak punya koneksi internet membuat kami bingung bagaimana cara membunuh waktu menunggu waktu check-in. Kemudian saya teringat, this is Paris right? Paris yang terkenal dengan coffeshopnya? Segera kami berjalan menuju sebuah coffeshop di dekat situ.

“I want hot latte please.”, tapi si barista mengangkat bahu tanda tak paham. Ternyata si barista tidak mahir berbahasa inggris.

“Emmm… hot latte?” ucap saya sambil mengacungkan 2 jari sebagai isyarat saya mau pesan 2 gelas.

“What’s latte?”. Saya heran, masa gak ada menu latte di coffeshop paris?

“Just give me chocolate. Chocolate? Hot chocolate?” Saya ulangi perkataan saya agar dia paham.

“Okay.” kata dia sambil menunjukkan kami kalkulator bertuliskan 66.

“WHAATTT?? 66 Euro for 2 cups of hot chocolate??” saya kaget.

“Bukan goblok, itu 6,6 euro.” sanggah Ardin.

“Ohh…”

Ternyata benar, menikmati secangkir kopi, well coklat, pada pagi hari di Paris sambil duduk di luar coffeshop memandangi lalu lalang orang memang sangat nikmat. Udara yang dingin menambah nikmat rasa coklat tersebut. Tapi kok Paris sepi ya? Tidak banyak orang dan kendaraan berlalu lalang. Setelah saya cek GPS ternyata kami berada cukup jauh dari pusat kota, pantas saja harga airbnbnya murah!

dsc01410

Menikmati Paris pagi hari

Jam 12 kami kembali ke apartemen Amel. Saya pencet bel masih belum ada jawaban. Akhirnya kami mengikuti salah seorang penghuni agar bisa masuk ke apartemen (karena masuknya butuh akses). Kami tunggu 10 menit dan akhirnya Amel datang!

Dia menanyakan apakah yang pencet-pencet bel puluhan kali tadi pagi adalah kami? Saya jawab iya. Dia agak gusar, bukannya kita janjian jam 12? “In here, you dont ring someone’s bell on 8 am.” Kami pun merasa agak tidak enak.

Saat kami masuk ternyata tamu sebelumnya belum check out dan Amel meminta mereka untuk check out. Amel meminta kami untuk menunggu sekitar 15 menit agar dia bisa membersihkan kamar terlebih dulu. Kami memilih untuk jalan-jalan ke kota sembari menunggu kamar siap.

Kami pergi ke Montmartre yang jaraknya tidak terlalu jauh. Disana terdapat sebuah gereja di atas bukit dan kamu bisa melihat pemandangan Paris dari bukit tersebut. Kami disana selama 2 jam sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang karena capek.

Gonggongan anjingnya Amel menyambut kami. Di airbnb tidak disebutkan bahwa Amel memiliki peliharaan anjing. Karena kami muslim, kami agak menjaga jarak dengan si anjing karena takut terkena air liurnya. “You’re not a dog person?” Tanya Amel.

Kami tertidur sampai jam 6 saking capeknya. Bangun tidur kami mandi dulu sebelum pergi jalan-jalan ke kota lagi. Saya diminta untuk pelan-pelan saat menutup pintu kamar mandi, padahal suer saya menutup pintu kamar mandi dengan normal! Huh, banyak sekali rulenya.

Malam itu kami pergi ke Arc de Triomphe, another landmark of Paris. Kali ini jaraknya agak jauh dibanding Montmartre. Disana kami hanya berfoto-foto dan duduk santai menikmati malam, well sore karena matahari masih bersinar sebab disana sedang musim panas.

Sekembalinya kami ke apartemen saya kembali ditanya Amel.

“Efan, did you shower for a long time?”

“I showered for about 10 minutes, why?”

“Now the shower stop working because you guys have showered for more than 30 minutes. Now I cant go shower and I just had my evening run.”

Deg. Kami merasa sangat tidak enak pada Amel. Saya tanya Ardin dia mandi berapa lama? “20 menit.” Jawabnya. Pantes aja.

“I’m very sorry I didnt know that rule because you didnt explain that rule before.”

“Its written here.” Kata dia sambil menunjuk kertas yang tertempel di ruang tamu. Shit.

“And you used my towel. I already explained in my airbnb profile you have to use your own towel.”

“You did? I’m really sorry, I read your profile months ago and didnt remember that rule.”

“Well you should read all the explanation before you go here.”

Kami sungguh merasa bersalah. Kami sudah membuat Amel kesal karena 3 hal. Bel, shower dan handuk. Duh!

Akhirnya kami masuk ke kamar dan tidak keluar sampai pagi karena saking tidak enaknya berhadapan dengan Amel. Paginya kami keluar saat Amel masih tertidur. Siang saat kami kembali Amel sudah tidak ada dan dia email saya untuk menaruh kunci di wadah payung depan pintu.

Sungguh pengalaman yang tidak mengenakkan!

Saya dan Ardin di Apartemen Amel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s