Susahnya Naik Bus Umum di Yangon

Biasanya, di negara dengan bahasa non latin sekalipun, terdapat papan yang menunjukkan nomor bus. Namun tidak di Myanmar. Nomor bus dalam kota disini semuanya tertulis dalam bahasa burmese.

Pilihan moda transportasi umum di Yangon ada dua : Taxi atau Bus. Biasanya turis asing naik taxi karena alasan diatas, dan juga taxi harganya murah dan jujur. Namun kurang menantang rasanya kalau saya naik taxi, berasa turis bukan backpacker. Maka dari itu saya beranikan diri untuk naik bus umum. Tak kurang akal, saya minta resepsionis hotel untuk menuliskan nomor Bus ke National Stadium di secarik kertas. Hari itu adalah pertandingan timnas Indonesia U-19 melawan Vietnam (kalau tidak salah, saya lupa).

Saya tunggu di halte bus dekat hotel. Bus disini ada dua macam : bus dengan kursi 3-2 layaknya bus kopaja dan bus dengan bangku panjang dari kayu dan dipasang kayaknya kursi pada KRL. Tentu saja harganya beda.

Setelah menunggu selama hampir setengah jam akhirnya datanglah bus yang sesuai dengan tulisan di kertas saya. Saya terpaksa berdiri karena bus sedang penuh. Di Yangon tidak perlu kuatir dengan copet karena tingkat kriminalitas disini sangat rendah, setidaknya itulah yang dikatakan oleh pekerja Indonesia yang saya temui disana.

bus yangon

Itu huruf atau cacing?

Kondektur Bus datang menagih uang. Karena tidak saya tahu berapa tarif busnya, saya kasihkan pecahan kyat dalam jumlah cukup besar.

“Put me down at National Stadium, okay?” kata saya kepada si kondektur.

Si kondektur mengangkat bahu tanda tak paham.

“National stadium? National-stadium? Na-ti-o-nal-sta-di-um?” Saya berusaha mengeja dengan berbagai varian intonasi agar si kondektur paham. Tapi si kondektur tetap geleng-geleng kepala.

Kemudian saya punya ide untuk menggunakan dua jari saya menirukan orang berlari dengan harapan si kondektur paham. Namun hasilnya tetap nihil. Duh.

Saya lihat sekeliling, berharap ada penumpang lain yang paham bahasa inggris menawarkan bantuan, tapi tidak ada.

Saya punya ide lain. Saya gerakkan kaki saya menirukan pemain dribble bola kemudian menendang sambil bilang “Gooool!!” dan mengangkat tangan tanda selebrasi.

“Ohhhh….” Si kondektur manggut-manggut.

“Got it?” tanya saya ke kondektur sambil mengacungkan jempol, yang dibalas oleh acungan jempol juga oleh si kondektur. Fyuh.

kondektur

Si kondektur

Singkat kata saya berhasil sampai di National Stadium. Setelah mengucapkan terimakasih ke si kondektur saya berjalan mencari loket tiket.

(Cerita selanjutnya mungkin bakal saya sambung di post lain)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s