Drama Naik Pesawat

SHIT!

Teriak saya keras-keras ketika tahu bahwa saya salah beli tiket pesawat. Seharusnya saya beli tiket Sydney-Melbourne Tullamarine tapi saya malah beli Sydney-Melbourne Avalon, padahal saya punya penerbangan lanjutan dari Tullamarine. Sebenarnya saya bisa ambil resiko untuk tetap menggunakan tiket Sydney-Avalon, namun saya berpikir bahwa waktu 4 jam tidak cukup untuk berpindah bandara. Apalagi ini adalah penerbangan internasional. Apa boleh buat, saya terpaksa beli lagi tiket Sydney-Tullamarine.

Dan kemudian setibanya saya di Bandara Tullamarine you know what happened?

PESAWAT SAYA DIKABARKAN DELAY 24 JAM!!

Bukan 1 jam, bukan 2 jam, bukan 3 jam, tapi 1 hari full! Saya menggerutu dalam hati, tahu gitu gak usah beli tiket baru.

Penumpang diberi kompensasi hotel semalam plus voucher makan. Jarak yang jauh dari bandara ke kota Melbourne membuat saya malas untuk jalan-jalan lagi ke kota. Jadilah saya cuma internetan di kamar menunggu flight besoknya. Untungnya pesawat Bali-Jogja saya juga dikabarkan diundur 1 jam sehingga saya berhak mengganti dengan flight keesokan harinya.

dsc00822

Hotel kompensasi

Jam 2 siang saya sudah duduk manis di bandara karena check out hotel maksimal jam 12, padahal flight saya jam 7 malam. Tak apalah. Saya habiskan waktu sambil ngobrol dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia.

Sampai jam 7 malam penumpang masih menunggu di ruang tunggu. Delay lagi! Jam 8 barulah penumpang dipersilakan boarding. Sampai-sampai penumpang bertepuk tangan saat panggilan boarding diumumkan.

Di pesawat saya duduk di tengah. Penumpang sebelah saya adalah seorang mahasiswi University of Melbourne yang berasal dari Cina (sebut saja Siska). Cantik, tinggi dan ramah. Jarang-jarang saya dapat penumpang sebelah beginian. Biasanya mas-mas cuek atau tante judes.

Dia bercerita bahwa dia ke Bali ingin liburan bersama dengan teman-temannya yang sudah berangkat duluan, jadilah dia terbang sendiri. Dua jam perjalanan kami habiskan dengan bercerita sambil hahahihi meski terdapat language barrier. Saya tidak mahir bahasa inggris, begitu pun dengan dia.

Setelah 2,5 jam terbang Siska berdiri meminta izin numpang lewat, dia mau ke kamar kecil. Tiba-tiba saja dia jatuh ke pangkuan penumpang sebelah saya (yang kemudian saya sesalkan kenapa gak jatuh ke pangkuan saya hehe). Kami panik, segeralah kami panggil pramugari bahwa ada penumpang pingsan.

Mbak-mbak pramugari membuat pengumuman apakah ada dokter di atas pesawat. Datanglah seorang bule berbadan tinggi menghampiri Siska. Untungnya Siska hanya lemas, bukan pingsan. Jujur saya sempat khawatir bahwa pesawat akan putar balik ke Melbourne, padahal ini sudah separuh jalan dan kami sudah mengalami delay 25 jam. Mbak pramugari kemudian meminta siska duduk di bagian belakang yang longgar dan memberikannya teh.

Tiga jam kemudian, setibanya di Bandara Ngurah Rai, Siska dipersilakan turun duluan. Kemungkinan sudah ada petugas medis yang menunggu di bawah.

Saya cuma berharap itu bukan akting dia karena ingin menghindari saya yang ngajak ngobrol sepanjang perjalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s